Bagaimana Awal Mula Aku Sadar untuk Belajar Bahasa Indonesia? (Pengalaman Teman Tuliku)

Sekarang aku sudah tidak beraktivitas di sekolah. Nah, di tempat kerjaku yang baru, pekerjaanku masih berhubungan dengan tuli. Salah satu klien di sini mempunyai tata bahasa yang lumayan teratur saat menulis. Mungkin ini mirip kesadaran kang Billy (ketua gerkatin jabar) untuk belajar Bahasa Indonesia di waktu mudanya. Dulu kang Billy juga pernah cerita ke salah satu orangtua bahwa dirinya di masa muda juga sempat menulis kalimat dengan kata-kata yang terbalik. Namun, dirinya sadar bahwa teman-teman dengarnya mengetahui banyak informasi, maka dirinya mulai sadar untuk belajar bahasa indonesia. Beliau pun meminta ibunya untuk mengajarinya. Aku tidak begitu tau cerita lengkapnya.

Dipikir-pikir, aku tulis juga deh cerita klien itu di sini. Barangkali bermanfaat bagi sesiapa yang membaca. Tentu saja ini merupakan rangkuman cerita, karena total lamanya ia bercerita sekitar 1 jam.

Bagian yang ditulis miring merupakan interpretasiku atas isyarat yang mereka ungkapkan. Interpretasiku ini sudah diperlihatkan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan dan dikoreksi bila ada yang aku salah ingat. 

Hari Sabtu yang lalu, aku dan beberapa teman tuli berkumpul di aula psrpd dinsos jabar. Biasanya kami belajar bersama ketua ataupun pengurus Gerkatin Jawabarat. Namun, hari itu pengurus Gerkatin sedang ada agenda lain sehingga kami memilih belajar secara mandiri mengenai Bahasa Indonesia. Saat itu kami terbagi menjadi 2 bagian. Sebagian memilih mengobrol santai dan sebagian yang lain memilih untuk latihan tenis meja bersama Pak Rizky (salah satu pembimbing di psrpd).

Dua atau tiga minggu sebelumnya, saat pembelajaran, salah satu klien bernama Hasbi dinasihati oleh beberapa pengurus untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada teman-temannya. Ia semacam diberi tanggungjawab untuk menransfer ilmunya kepada orang lain.

“Ayo kita mulai belajarnya!” kataku memotong obrolan mereka siang itu. Hasbi sempat mengeluh mengenai ketidaklengkapan peserta, “tadi udah aku panggil-panggilin ke sini, tapi lihat kan? Sedikit yang datang.” Kujawab, “udah gapapa. Kalau belajarnya batal, kasihan teman-teman yang udah datang mau belajar. Sekarang mulai aja.”

Aku meminta Hasbi untuk mengajarkan arti-arti kata yang dia ketahui. Namun, Hasbi mengelak. Menurutnya, ada hal penting yang perlu ia sampaikan kepada teman-temannya. Baiklah, aku persilakan dan mulai menyimak.

Kalian tau gak aku belajar bahasa Indonesia dari mana?

Aku belajar dari ummi, dari kakak, juga otodidak. Kita bisa belajar otodidak (sendjri).

Dulu, kira-kira tahun 2016 (tapi beberapa hari kemudian dia meralat, katanya 2015 dia sudah paham tulisan. Jadi kemungkinan kejadian ini terjadi sebelum itu, antara 2014-2015). Aku itu belum paham Bahasa Indonesia. Aku masih polos, ada tulisan yang gak dimengerti ya santai aja, hingga akhirnya aku punya hp untuk pertama kalinya. 

Waktu itu lagi jamannya BBM. Kalian tau kan BBM?

Teman-teman ada yang menjawab tau dan ada yang tidak. Ada juga yang menyebut bentuk ikonnya ada titiknya.

Nah, iya yang gambar ikonnya titik-titik itu. Aku coba chat ke teman-temanku, ke teman tuli dan teman dengar. Chatnya asal aja gitu, kadang juga minta bantuan ke mamang,  “mamang, ini balasnya kayak gimana?” tapi dulu aku ga bisa bahasa indonesia ya, pakai isyarat juga dikit-dikit gitu, aku tunjukin hpnya ke mamang. Mamang ngerti maksud aku, jadi mamang bantu aku buat bales-bales chat.

Ada yang lucu! Nih, dulu Cindy ini sombong.

“Oh iya dulu berantem!” kata Cindy.

Iya. Aku kan sering gak ngerti isi chat. Waktu di sekolah dia bilang, “halaaah, Hasbi paham kata-katanya dikit, aku banyak!” Yaudahlah aku percaya, tapi ternyata pas aku nanya ke mamang, mamang pun gak ngerti apa yang Cindy ketik di chat. Jadilah besoknya aku dan Cindy berantem karena ternyata dia salah.

Aku ingin chating, tapi sering bingung mau ngetik apa. Yaudah, aku bilang ke Ummi. Aku tunjukin chat ke Ummi. Ummi paham, “kamu mau belajar nulis ya?” sebenernya Ummi suka ngomong panjang, tapi yaudah sekarang aku cerita yang aku pahami aja, mungkin ya kayak gitu. Aku jawab iya. Ummi langsung ngambil kertas dan nulis:

lagi ngapain?

Hah, ini apa? Gak ngerti. Umi bilang, kalau orang bilang, lagi ngapain? Hasbi harus jawab lagi duduk, lagi main, lagi diam.

lagi duduk

Lagi duduk? Lagi duduk itu apa? Ummi nanya, “Hasbi ga tau?”. Nggak, aku ga tau. “Kan di sekolah Hasbi nulis, belajar,” kata Ummi. Nggak tau, mungkin lupa. Itu apa? “ini, Hasbi lagi duduk” Ummi nunjuk aku yang lagi duduk. Ooooh, ternyata lagi duduk itu ini namanya duduk. “Lagi main, Hasbi ke luar sama teman. Main….” itu kata Ummi. Terus aja Ummi ajarin aku kata-kata lain. Contoh lainnya, kata bohong.

Bohong

Bohong itu apa? 

Ummi jawab, “ada orang bilang ke Hasbi.  Hasbi, kamu lagi ngapain? Hasbi lagi duduk, tapi Hasbi bilang lagi makan. Itu bohong”. Ooooh tau tau, yaaa itu bohong. Kadang aku lupa kata-kata yang ummi udah ajari sampai-sampai Ummi bilang, “kemarin udah diajari, Hasbi udah tau.” Aduh, aku lupa, tapi waktu Ummi ulang, aku jadi ingat lagi.

Seudah sering belajar sama Ummi, aku coba chat-chat lagi, tapi masih banyak yang gak aku pahami. Ya itu, kalo ga ngerti aku tanya ke mamang.

Lama kelamaan, aku bosen. Chatnya nanya lagi apa terus, lagi makan, lagi main, oooh, iya, nggak, gak tau, gitu-gitu aja terus. Chatnya pendek-pendek, bosen. Aku coba nanya ke kakak aku. “Iklima, kamu paham tulisan?”, dia jawab paham dan aku minta dia menuliskan semua yang dia tau. Iklima pun nulis daftar kata yang dia ketahui, bahkan sampai kertasnya penuh. Satu per satu kata dia coba isyaratkan. Misalnya, sepatu. “Sepatu itu artinya itu tuh” dia bilang sambil nunjuk sepatu. Misalnya lagi kata “kata”. Iklima bilang, kata itu semua yang ditulis di sini namanya kata. Blablabla pokoknya banyak.

Terus aku kan masih chating sama temen-temen. Aku mulai bingung, kenapa sih temen-temen yang denger suka nanya: “maksud?”. Aku tanya ke mamang, maksud tuh apa? Katanya artinya mereka itu gak ngerti isi chat Hasbi. Waktu itu aku belum sadar kalau chat aku kalimatnya terbolak-balik

Aku bingung, kenapa teman dengar sering gak ngerti maksudku ya? Aku tanya ke teman sekolah. “Kalo aku chat, kamu gak ngerti?” dia jawab gak ngerti karena kata-katanya kebalik-balik. Aku bingung, terbalik kayak gimana sih?

Aku bilang lagi ke Ummi. Aku mau belajar nulis yang rapi, gak terbalik. Ummi senang. Ummi ajari aku terus, kadang pakai tulisan, kadang pakai isyarat sedikit. Aku belajar sama Ummi, aku juga banyak chating dengan teman dengar. Aku juga diajak nonton film. Di situ ada subtitlenya, tulisan di bawahnya itu pakai bahasa Indonesia. Waktu nonton itu kadang aku gak ngerti, misalnya guru di film bilang “sebelum pulang semua siswa harus membersihkan kelas!” Aku bingung, mana nih, kok gak langsung bersihin kelas? Di film, sebelum pulang mereka bersihin kelas. Ooooooooh, aku klik lagi ke yang tadi, lihat tulisan “sebelum pulang semua siswa harus membersihkan kelas!”. Oh maksudnya kayak gini. Baru paham. 

Lama kelamaan, mungkin tulisan aku jadi rapi. Teman-teman dengar lumayan ngerti. Mereka jarang nanya “maksud?” lagi. Aku juga sering nanya ke teman dengar, ini tulisanku masih terbalik gak? Mereka jawab, lumayan, sekarang terbaliknya kadang-kadang aja. 

Beberapa waktu kemudian, mungkin setahun kemudian, Ummi bilang “Hasbi kan udah belajar Bahasa Indonesia. Hasbi juga harus belajar agama.” Ummi memberi tau tentang agama islam. Banyak yang ummi ajarkan. Misalnya ummi bilang, “Hasbi, pacaran itu haram. Haram itu gak boleh” Aku kaget. Duh, aku kan lagi punya pacar. Dia orang dengar, namanya *tuuuuut* (nama disensor atas permintaan Hasbi). Ummi juga bilang, kalau orang islam harus hafal al-fatihah. Al-fatihah dibacanya waktu sholat. Ummi tulis, tapi aku gak bisa-bisa, pusing. Yaudah ummi tulis pendek-pendek. Bismillah hirrohman nirohim. Alham dulilah hi robbil alamin. Ummi juga cerita tentang surga dan neraka. Kalian udah bisa al-fatihah belum? 

Baru satu orang yang menjawab sudah. Melihat itu, aku memotong ceritanya. Aku bilang, kita harus belajar. Kalau masih belum bisa, yaudah gapapa tapi yang penting udah berusaha. Allah itu mewajibkan kita semua belajar. Aku dengar, kalian tuli, sama-sama wajib belajar, gak ada bedanya. Bisa atau belum bisa, gapapa, itu terserah nanti, yang penting coba dulu.

Iya gitu. Zidan kan udah kirim video al-fatihah di grup. Coba kalian tonton, lalu hafalkan. Pendek-pendek aja gapapa.

Ayo coba belajar sendiri. Bisa nanya ke orang, bisa juga belajar sendiri. Ingat, coba sering chating dengan teman yang dengar. Nanti lihat, mereka ngerti gak? Kalau gak ngerti, tanya aja. Lihat chat mereka, oh harusnya gitu. Sekarang aku kalau gak tahu arti kata, kadang nanya ke teman dengar, kadang cari sendiri di google. Misal, aku gak tau arti kata apa gitu. Langsung aku cari di google. Cari aja, arti kata apa yang gak ngerti, tulis di situ.

Cindy memotong cerita. Cindy bilang:

Kalau gak cari di google, bisa cari di kbbi. Ada kbbi di google. Nanti ada arti kata juga.

Aku mengiyakan pernyataan Cindy dan bertanya, “kalau Cindy, mulai sadar belajar Bahasa Indonesia, kalimatnya rapi, itu kapan?

“Aku sih 2013,” kata Cindy. 

Kamu belajar sama ibu kamu?

Iya, sama mama. Mama juga bisa isyarat dikit, terus ditulis juga.

Tiba-tiba, pak Rizky memanggilku untuk menerangkan aturan permainan tenis meja jika dimainkan ganda. Aku tidak menyimak cerita selanjutnya.

Setelah selesai melatih tenis, Pak Rizky memberikan nasihat kepada mereka agar mau membuka diri kepada orang dengar. Maksudnya, jangan malu untuk kenalan. Jika bertemu secara langsung, entah itu tetangga, teman, atau saudara, coba saja sapa dan coba berkomunikasi. Gak nyambung di awal-awal ya gak apa-apa. Hal pentingnya udah dilakukan kok, yaitu menunjukan bahwa diri ingin ikut berkomunikasi juga. Tujuan akhirnya, tuli tidak lagi termarjinalkan di masyarakat.

Salah satu efek (atau bisa jadi tidak ada kaitannya) setelah diskusi di hari itu adalah beberapa klien tuli lain jadi sering menanyakan arti-arti kata kepadaku, juga memintaku untuk mengoreksi kalimat-kalimat yang ditulisnya.

Setelah menyimak cerita, ternyata aku masih senang melihat orang-orang yang mau belajar. Aku jadi kangen mengajar, tapi belum ingin kembali ke sekolah. Jadi gimana dong ini… hahahaha. Dasar aku, galau melulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s