Tentang membaca ini dan itu

Hari ini aku baru aja memenuhi panggilan interview di Cimahi. Ada hal yg menarik, karena suasana saat interview berasa lagi diskusi sama anak-anak DKM. Jadi terkenang masa SMA duh, umuuuur.

Pertanyaan-pertanyaan yg dilontarkan akang pewawancara (aku mau nanya balik pas abis memperkenalkan diri tp tiba-tiba aja mulutku belibet dong wkwkwk pas jawab pertanyaan beliyo aja aku sering mengulang kata karena speako) itu ada beberapa yg saaaangat umum ditanyakan selama aku ikut ngeriung ngaji. Pas jaman SMA atau kuliah, murobbi nanya amalan harian tuh ya biasa aja. Baik itu murobbi yg ada di kelompok kecil/liqo atau di kelompok besar(kalo ngaji ke mesjid).

Naaaaah, yang bikin aku malu sama diriku sendiri adalaaaaaaaaaaaah kok jawabanku jaman dulu sama sekarang sama ya? Kalo pikiran akang, hrd, dllnya mah ya terserah, mereka pasti punya alasan sendiri kenapa nanyain itu.

Udah berapa kali khatam al-qur’an?

Aku terdiam sesaat. Bukan karena terlalu banyak sampe lupa. Aku bener-bener inget berapa jumlahnya dan aku tiba-tiba bertanya dalam hati: kenapa masih segitu? Ini juga aku alami waktu ngisi googleform yg mereka kirim. Memang sih, bukan hanya kuantitas yg harus diutamakan, harusnya juga kualitas. Namun, sekarang aku jadi bertanya: apakah kualitas membacaku bagus?

Ah….

Selain itu, akangnya nanya apakah aku suka baca buku atau ngga?

Jelas aku suka, tapi saat itu otak aku bilang: ngga, kamu ga suka baca ndah… emang berapa buku yg kamu baca tahun kemarin?

Aku langsung teringat postingan beberapa teman facebookku yg membicarakan jumlah buku yg mereka baca. Jelas, aku kalah telak.

Aku suka berada di perpustakaan, aku senang mencicipi buku yg ada, tapi apakah itu artinya aku suka membaca? Pertanyaan ini sempat muncul saat dulu, aku ditanya oleh seorang kakak di UPM.

“Kamu suka baca buku?” katanya sambil merokok.

Saat itu aku tidak mau bilang suka, karena aku yakin, ia akan menanyakan apa buku yang kubaca. Hih, dasar sotoy ya aku ini.

Sama seperti tadi siang. Aku ingat, sebenarnya aku sedang membaca ulang buku tentang isme-isme di dunia. Gara-gara beberapa waktu sebelumnya aku baru ngobrol ngalor ngidul dengan seorang kakak tingkat hingga kami membahas kemana-mana. Ketika dia sempat membahas salah satu isme, otakku bilang: sebentar, itu yang mana? Perasaan pernah baca….

Kakak tersebut sadar aku bingung, dan aku jujur saja kalau aku lupa. Besoknya aku buka buku aku itu, dan tadaaaa ternyata aku melupakan apa yg sudah aku baca.

Jarang baca, mudah lupa.

Banyak bicara, takut “bersuara”.

Apakah aku mulai seperti itu?

Ataukah aku memang seperti itu sejak awal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s