Kutukan Kata

Kata-kata yang ingin Kata katakan kini semua milikmu, maka berkatalah: Kata-kata yang ingin Kata katakan kini semua milikmu, maka berkatalah: Kata-kata yang ingin… 

Wina yang mungkin telah memperhatikanku dari tadi akhirnya menegur juga. Ia bertanya apa yang sedang kulantunkan. Keningnya mengerut, matanya memandangiku heran.

kini semua milikmu, maka berkatalah…

Aku tertawa menanggapinya, lalu bergurau bahwa aku sedang menghitung hutangnya padaku. “Aku perhatiin dari tadi kamu kedengeran bergumam, komat-kamit ga jelas kayak dukun ngusir setan. Ngapain sih?”

…Kata-kata yang ingin… 
“Gapapa Win, Cuma lagi banyak pikiran aja.”
“Mikirin si dia ya? Ihihihihi…” godanya.
“Dasar!” kudorong tubuhnya. “


…Kata katakan adalah…”
“Cie cieee udah mulai nunggu-nunggu sambil deg-degan ga jelas nih… hihihi cieeeeeeeeeeeee….”
Perkiraan Wina benar. Aku sedang menunggu sembari berdag-dig-dug tak karuan. Ingin rasanya kulepas saja dia, namun sulit. Dialah satu-satunya yang bisa membuatku melakukan apa yang paling kubenci. Perasaan itu selalu ada di setiap detik, tempat, dan helaan nafas. Tentu saja begitu, karena aku menunggu dia kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun keadaanku.


…kata-kata yang ingin Kata…
Teguran Wina tadi siang membuatku kembali mengingat apa yang telah kulakukan selama tiga hari terakhir. Eh? Apa yang aku pikirkan? Apa ini pertanda aku mempercayai pada mitos murahan itu?
Sejauh yang dapat kuingat, ada banyak sekali mitos di desa asalku. Mulai dari yang paling umum seperti masakan gadis yang terlalu asin menandakan dirinya ingin segera menikah, sampai pada mitos yang menurutku sangat tak masuk akal. Jika aku tak sedang tergila-gila pada si dia, aku pasti malas menceritakan ini kepadamu.


Dahulu sekali, terdapat seorang pemuda yang tak dapat berbicara, namun ia pintar. Ia dapat belajar membaca dan menulis layaknya teman-teman lain. Kondisi desa yang dilanda kemarau panjang membuat para penduduk berangsur-angsur pindah hingga akhirnya hanya tersisa beberapa orang saja. Pemuda itu tak bisa pergi dari desa karena kondisi bapaknya yang sudah tua renta dan rentan sakit. Terlalu berresiko jika ia pindah ke tempat lain, baik sendirian maupun membawa bapaknya. Sayangnya, rasa cinta dan kasih si pemuda terhadap bapaknya tak mendapat balasan yang diharapkan. Sejak kecil bapaknya memang terlihat tak terlalu menyukainya. Ia merasa anak lelakinyalah yang menyebabkan istrinya meninggal dan anak lelakinya pulalah yang menghabiskan hartanya untuk berobat ke sana kemari dengan tujuan menyembuhkan kebisuannya. Bisunya pemuda itu dan buta hurufnya sang bapak menyebabkan kondisi makin runyam. Baiklah, biar kupersingkat. Pemuda yang kesepian itu merasa hanya tulisanlah yang bisa mengerti dia. Tulisan yang ia tulis tak pernah protes, mereka selalu tunduk dan patuh pada kehendaknya. Baginya menulis itu menyenangkan, namun kadang membosankan.


Wahai para kata, bergumamlah sesukamu… wahai para kata, bergumamlah! Tentanglah aku! Aku tahu kalian tak bisu sepertiku. Aku tahu kalian tak tuli sepertiku. Berkatalah wahai kata-kata! Bukankah kalian adalah kata-kata?
Aku tak tahu persis bagaimana sang pemuda memanggil para kata. Akhir cerita yang kutahu hanyalah keberhasilan sang pemuda dan penghabisan sisa hidupnya untuk bercengkrama dengan tulisannya sendiri. Cerita yang membosankan, klasik, namun cukup menarik kan?
Kau tak perlu mencari kata selain gila untukku. Sudah kubilang sebelumnya, aku tak akan menceritakan mitos absurd macam itu jika kondisiku tak seperti sekarang. Kuakui, akulah manusia sejenis pemuda kesepian dalam mitos itu. Jauh dari rumah dan merasa tak pernah dikunjungi cinta. Apa salahnya sih mencoba bercengkrama dengan tulisanku sendiri?


“Kata-kata yang ingin Kata katakan adalah kata-kata yang ingin Kata katakan. Wahai Kata, katakanlah apa yang ingin kau katakan!” Beribu kali kuucapkan kalimat itu, tapi tak ada satupun kata yang menyahut.
“AAAAAAAAAAAAARRRRGGGGH!!!!! KEPARAT! KURANG AJAR! KALIAN MENGHABISKAN WAKTU-WAKTU BERHARGAKU!” Aku lelah. Aku marah. Aku menyerah. Kutuliskan semua perasaan dan pikiranku di buku catatan. Aku memang terbiasa menuliskannya di sana sebelum memindahkan mereka ke blog di dunia maya.


Hari yang sudah dapat kupastikan akan melelahkan seperti hari kemarin kini sudah datang. “Basdjh kamu asadb bdja iya juga ajdh dan kladhh masa sih dbe ooh belum asgda….” kamarku bergemuruh penuh ocehan. Kuabaikan mereka seperti biasanya.
Kutulis semua kata yang kutahu sebagai formalitas hidup. Tak ada pilihan lain jika aku tak ingin mati hari ini. “Hei, bukan seperti itu… Kami tidak mau berteman dengan dia, jangan tulis kata-kata aneh seperti dia dong.” Kata salah satu dari mereka. Aku tak protes, kuhapus kata terakhir yang baru saja ditulis.
“Gak becus banget sih.” “Kalau lelah, sudahi saja. Biar cepat matinya.”
“Iyaaa iyaaa” jawabku ketus.


Setelah lelah beradu argumen, kuputuskan untuk menukar Saat dengan Ketika. Tak pelak lagi, Saat iri. “Kenapa aku harus digantikan olehnya? Kau harusnya tau! Aku dan dia punya makna yang sama untuk hidupmu!” bentak Saat. “Nah, lalu apa masalahnya? Baru saja kamu mengakui tak ada bedanya kan? Itu berarti hasilnya pun tidak akan berbeda jauh, bahkan bisa jadi sama persis. Dasar bawel!” kataku menyudahi perdebatan sambil menyimpan sebutir debu di akhir kalimat.
“Hai, aku Titik.” sapa Titik pada beberapa kata di sebelahnya, memecah kebekuan antara Saat dan aku.
“Yasudah. Sekarang hapuslah aku!” kata Saat dengan nada dingin. Semua kata diam terpaku.
“Hai, aku Titik.” Kini Titik menyapaku. “Kenapa muram begitu? Apa para kata menyakitimu?”
Aku tak dapat menjawabnya. Oh bukan, mungkin tak ingin. Kata-kata itu tiba-tiba menelan semua kata-kataku. 

5 pemikiran pada “Kutukan Kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s