Aku Ini Tak Mendengar, Bukan Tak Mau Mendengarkan

Pernahkah kamu mendengar sebuah lagu, lalu kenangan tentang sesuatu menyusup ke kepalamu? Kadang kamu bingung apa kaitan antara lagu itu dengan memori yang datang, tapi itu jarang menjadi soal. Kamu menikmati rasanya mengenang, entah itu ditemani tawa, lamun, tangis, atau kegiatan sehari-hari yang tetap kamu kerjakan seperti biasa. Mungkin begitulah pengalamanmu, dan itu tak pernah terjadi di hidupku.

Aku memang pernah bermain-main dengan kenangan, tetapi ia hadir bukan terpancing oleh lagu. Oh… bukan, ini bukan karena aku anti musik. Aku hanya tidak pernah mendengar nada-nada yang dirangkai para musisi. Bukan lagu aja sih, melainkan hampir semua suara termasuk yang dimiliki ayah dan ibuku.

Suatu hari, beberapa waktu setelah pendengaranku dites, ibu membelikanku sebuah alat yang dipasang di telinga. Awalnya aku risih, tapi kuturuti saja kemauannya. Setiap hari ibu menyempatkan diri untuk mendekatkan mulutnya ke kedua telingaku, lalu berteriak atau memukul tutup pancinya yang kadang menyebabkan dadaku terasa bergetar. Apakah itu? Getaran itukah yang tak kumiliki? Ada kalanya aku terperanjat saat merasakan getaran itu, tapi ibu malah terlihat senang. Oh jadi benar, getaran inilah yang ingin ibu berikan.

Demi mencari getaran yang umumnya kalian sebut bunyi, ibu sering membawaku ke tempat terapi wicara untuk melatihku menggunakan organ-organ bicaraku. Aku belajar banyak hal tentang bagaimana: bibir bergerak, letak lidah pada area dalam mulut, menggetarkan pita suara  dan lainnya. Hal ini cukup sulit buatku . Aku seperti diminta menciptakan kembali sesuatu yang telah ada, namun tidak kuketahui warna, rasa, dan baunya.

Menariknya, aku sendiri tidak tahu bagaimana hasil yang keluar dari mulutku. Tahu-tahu aku disebut salah, salah, salah, salah, betul, salah bukan seperti itu, tapi seperti tadi, naaah betul. Aku yakin saat itu ia berkata begitu, karena ia mengacungkan ibu jarinya ke atas ketika bibirnya membentuk huruf “u” serta menunggingkan jari yang sama ke bawah ketika mulutnya membentuk huruf “a” dan lidahnya terlihat bergerak.

Di masa lalu, aku sempat sedih karena keadaanku. Kenapa aku tidak mengerti orang-orang? Kenapa mereka tidak mengerti aku? Bukankah mulutku juga bergerak sebagaimana mereka membuka dan menutup mulut? tapi kenapa masih saja kami saling tak memahami?

Saat mereka menertawakan hal lucu-mungkin membahas film atau kucing peliharaan tetangga- kadang aku mengira, akulah objek yang mereka tertawakan. Ada kalanya aku sedih, tapi kalau moodku sedang bagus dan prasangka baik hinggap di otakku, aku ikut tersenyum melihat mereka.

Hal yang tak bisa kujelaskan saat itu adalah keingintahuanku pada berbagai hal. Apa itu? Kenapa begitu? Aku ingin bertanya, tapi bagaimana caranya?  Saat itu aku begitu kekurangan kosakata. Aku ingin bertanya, tapi pada siapa? Ayah dan ibu memang bersedia menanggapiku semampu mereka, sambil termangap-mangap, menunjukku, menunjuk udara, menunjuk apa saja. Aku ingin mengungkapkan sesuatu, tapi apa?

Aku tumbuh dan berkembang. Agaknya aku mulai bisa membaca bibir untuk mengetahui apa yang dikatakan orang-orang, walaupun masih sering berakhir dengan tersenyum atau meminta maaf bila mereka terlihat berkata dalam hati “Waduh, gak nyambung nih.” Terlepas dari itu, aku bersyukur karena masih ada yang bersedia berkomunikasi denganku. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s